Benarkah KPR Fixed Rate Selalu Lebih Aman? Beberapa Investor Properti Justru Andalkan Skema Floating Rate!

Benarkah KPR Fixed Rate Selalu Lebih Aman? Beberapa Investor Properti Justru Andalkan Skema Floating Rate!
Benarkah KPR Fixed Rate Selalu Lebih Aman Sejumlah Investor Properti Justru Andalkan Skema Floating Rate!

Cicilan yang tetap dari bulan ke bulan menjadi daya tawar utama KPR fixed rate. Banyak calon pembeli rumah cenderung merasa lebih tenang merencanakan keuangan jangka panjang dengan angka yang sudah pasti. Terutama jika membeli untuk di tinggali sendiri. Sebab pengeluaran bulanan bisa di susun berdampingan dengan kebutuhan rumah tangga lain. Tanpa perlu menyisakan ruang untuk kemungkinan kenaikan cicilan di tahun-tahun mendatang. 

Kepastian semacam ini terasa penting terutama bagi Anda pasangan muda yang baru memulai kredit dua puluh tahun. Karena perubahan suku bunga sekecil apa pun bisa berdampak cukup besar jika terjadi berulang kali sepanjang masa kredit.

Daftar isi Tampilkan Sembunyikan

Fixed Rate yang Tidak Selalu Aman Bagi Investor

Bagi kebanyakan pembeli rumah pertama, kepastian nominal cicilan memang menjadi pertimbangan utama. Gaji bulanan yang relatif tetap membuat skema fixed rate terasa cocok. Karena tidak ada kejutan biaya tambahan ketika suku bunga acuan bergerak naik.

Gambaran itu berubah ketika yang berbicara adalah investor properti, bukan pembeli untuk hunian pribadi. Sejumlah investor yang aktif membeli properti untuk di sewakan atau di jual kembali justru mempertimbangkan skema floating rate. Meski itu berarti cicilan mereka bisa naik turun mengikuti kondisi pasar.

Pilihan itu bukan semata soal keberanian mengambil risiko semata, melainkan cara mereka membaca proyeksi arus kas. Investor yang memahami siklus suku bunga cenderung menghitung skenario terburuk dan terbaik dari fixed maupun floating rate sebelum menentukan pilihan. Bukan sekadar memilih yang terdengar paling stabil di atas kertas.

Pada periode suku bunga acuan sedang tinggi, bank umumnya menawarkan fixed rate dengan angka yang juga tinggi untuk periode tertentu. Sebelum berubah mengikuti bunga floating setelahnya. Investor yang jeli melihat pola ini akan menghitung apakah selisih bunga tersebut sepadan dengan kepastian yang di tawarkan. Atau justru membebani cicilan tanpa alasan yang kuat.

Kondisi berbeda berlaku ketika ekspektasi pasar mengarah pada tren penurunan suku bunga. Floating rate bisa memberikan keuntungan karena cicilan berpotensi ikut turun seiring waktu. Dan bagi investor yang menahan properti dalam jangka menengah, penurunan cicilan ini bisa memperbaiki margin sewa atau mempercepat balik modal.

Arus Kas, Portofolio, dan Siklus Bunga: Dasar Pertimbangan Investor

Pertimbangan lain yang sering luput dari pembeli awam adalah opportunity cost dari selisih bunga fixed dan floating. Selisih tersebut, jika di hitung dalam nominal rupiah per bulan, bisa di alokasikan investor untuk keperluan lain. Seperti renovasi, biaya operasional properti sewa, atau bahkan modal untuk unit properti berikutnya.

Investor properti umumnya tidak menahan satu unit dalam waktu sangat lama seperti pembeli untuk hunian pribadi. Rencana jual atau alih fungsi properti dalam tiga hingga lima tahun ke depan membuat fluktuasi bunga floating dalam periode tersebut terasa lebih terkendali. Di bandingkan jika kredit ditahan selama lima belas atau dua puluh tahun.

Faktor psikologis berperan dalam perbedaan pilihan ini. Pembeli rumah untuk hunian pribadi cenderung menghindari ketidakpastian karena cicilan berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar tempat tinggal keluarga,. Sementara investor memandang cicilan sebagai bagian dari perhitungan bisnis yang bisa di sesuaikan dengan strategi keluar sewaktu-waktu.

Cara investor mengelola beberapa unit properti sekaligus memengaruhi keputusan ini. Sebagian unit di ambil dengan fixed rate untuk menjaga stabilitas arus kas. Sedangkan unit lain di ambil dengan floating rate untuk memanfaatkan potensi penurunan bunga di masa mendatang. Sehingga risiko dari satu skema bunga tidak membebani seluruh portofolio.

Riwayat pergerakan suku bunga Bank Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu rujukan yang di pelajari investor sebelum menentukan skema kredit. Pola kenaikan dan penurunan BI rate memberi gambaran kasar tentang arah suku bunga KPR ke depan. Walaupun tidak ada jaminan pola tersebut akan berulang persis sama.

Investor berpengalaman juga memperhitungkan ruang negosiasi yang bisa mereka dapatkan dari pihak bank.. Sebagian dari mereka memilih floating rate karena skema ini memberi ruang lebih besar untuk mengajukan penyesuaian atau pelunasan di percepat. Tanpa terikat pada periode fixed yang biasanya membatasi opsi tersebut di tahun-tahun awal.

Menimbang Risiko dan Menentukan Skema yang Paling Sesuai

Biaya penalti pelunasan di percepat pada masa fixed rate menjadi pertimbangan praktis yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Bagi investor yang berencana menjual properti sebelum periode fixed berakhir, biaya penalti ini bisa mengurangi keuntungan penjualan. Membuat floating rate dengan fleksibilitas pelunasan yang lebih longgar di anggap lebih menguntungkan untuk strategi jangka pendek.

Floating rate sendiri tetap membawa risiko yang perlu di siapkan dengan perhitungan matang. Investor yang memilih skema ini umumnya menyiapkan dana cadangan untuk mengantisipasi kenaikan cicilan pada periode suku bunga tinggi. Tidak hanya berharap suku bunga akan terus turun.

Kondisi dan pertimbangan di atas tidak sepenuhnya berlaku sama bagi pembeli yang membeli rumah untuk ditinggali sendiri. Kepastian cicilan tetap menjadi prioritas yang wajar karena rumah tersebut menyangkut kebutuhan tempat tinggal jangka panjang. Bukan aset yang di perjualbelikan dalam waktu dekat.

Simulasi angka menjadi cara paling konkret untuk membandingkan kedua skema ini. Menghitung total cicilan selama periode fixed, lalu membandingkannya dengan proyeksi cicilan floating berdasarkan skenario kenaikan dan penurunan suku bunga. Memberi gambaran yang jauh lebih jelas, alih-alih hanya menebak mana yang “lebih aman”.

Rekam jejak bank pemberi KPR juga perlu Anda cermati, terutama soal transparansi penyesuaian bunga floating dari waktu ke waktu. Beberapa bank menyesuaikan bunga floating lebih cepat mengikuti BI rate, sementara yang lain menahan penyesuaian tersebut beberapa bulan. Detail semacam ini memengaruhi seberapa besar risiko yang sebenarnya di tanggung peminjam.

Jenis properti yang di beli memengaruhi pilihan skema kredit ini. Properti dengan permintaan sewa yang stabil memberi ruang lebih besar untuk menanggung fluktuasi floating rate. Di sisi lain, properti yang arus kasnya lebih bergantung pada musim atau kondisi pasar tertentu mungkin lebih cocok dengan kepastian cicilan dari fixed rate.

Perbedaan cara pandang ini menunjukkan bahwa tidak ada skema KPR yang secara mutlak lebih unggul dari yang lain. Fixed rate maupun floating rate sama-sama punya tempatnya. Tergantung pada tujuan pembelian, jangka waktu kepemilikan, dan kemampuan masing-masing pihak dalam mengelola risiko keuangan.

Sebelum menentukan skema kredit, ada baiknya Anda sebagai calon pembeli menghitung dahulu tujuan kepemilikan properti tersebut. Apakah untuk hunian jangka panjang atau untuk kebutuhan investasi dengan rencana keluar dalam beberapa tahun ke depan. Perhitungan ini akan sangat memengaruhi skema mana yang lebih sesuai.

Punya rencana membeli properti untuk investasi atau hunian? Segera hubungi tim PT Tomoland yang siap membantu menghitung skema KPR paling sesuai dengan tujuan dan strategi keuangan Anda!

📞 Layanan Informasi Lebih Lanjut: 

WhatsApp / Telp: 0821-4212-5500

Ayesha Annur

Adalah seorang ahli strategi pemasaran digital yang mengkhususkan diri dalam optimasi penjualan dan branding properti melalui kanal online.

Artikel Terkait